Blogger Widgets

Popular Post

Tampilkan postingan dengan label lain-lainnya. Tampilkan semua postingan

Doa Lailatul Qadar

By : 'Asyirah Aswaja Sumut
Hadith ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي 
“Dari Abdullah bin Buraidah dari Aisyah, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, khabarkanlah kepadaku, jika aku tahu bahwa satu malam adalah lailatul qadar, apa yang aku baca dalam itu?”. Rasulullah bersabda: “Bacalah “Allahumma innaka ‘Afuwwun Kariim Tuhibbul afwa fa’fu ‘anna”. (HR. Tirmidzi).

Hadits doa lailatul qadar ini dinilai “hasan shahih” oleh Imam Tirmidzi. Setelah menyampaikan hadits tersebut, ia berkata:
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
“Ini adalah hadits hasan shahih”.

Imam Mulla Ali al-Qari dalam Mir’ah al-Mafatih (VII/175), setelah menjelaskan hadits tersebut, berkata:
قَالَ الحَاكم: صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَوَافَقَه الذَّهَبِي
“Al-Hakim berkata: “Hadits shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan  Muslim. Dan adz-Dzahabi menyetujuinya”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulugh al-Maram (hadits nomer 265) mengatakan bahwa, hadits diatas dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Hakim. Dengan itu dapat dipastikan al-Hafizh Ibnu Hajar juga menyetujuinya. Ia seorang kritikal terhadap hadits sangat mumpuni dan kredibel yang tidak akan bertaqlid kepada orang lain dalam hal penilaian hadits.

Salah seorang Salafi Wahabi berkata, hadits di atas adalah dhaif dari sisi sanad dan matannya. Dari sisi sanad, ia beralasan, bahwa Abdullah bin Buraidah tidak mendengar hadits dari Aisyah. Sedangkan dari sisi matan, ia mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang mengetahui pasti lailatul qadar, karena tanda-tanda lailatul qadar dapat diketahui setelah lailatul qadar selesai.

Menurut saya ini adalah kesimpulan yang sangat tergesa-gesa dan keberanian yang sungguh luar biasa. Andai saja ia lebih berhati-hati dalam menilai. Karena selain Imam Tirmidzi sendiri telah menilainya hasan shahih, ulama hadits setelahnya, termasuk ulama Salafi Wahabi Syaikh al-Albani, juga sepakat dengan penilaian tersebut.

Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan at-Tirmidzi (hadits nombor 3513) menulis:
تَحْقِيْق الألْبَانِي : صَحِيْحٌ ، ابنُ مَاجَهْ ( 3850 )
 “Tahqiq al-Albani: “Shahih” Ibnu Majah (3850)”.
Kemudian terkait dengan kritik terhadap sanad hadits di atas, bahwa Abdullah bin Buraidah tidak mendengar hadits dari Aisyah. Maka saya katakan bahawa itu benar menurut al-Hafizh al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, hingga haditsnya termasuk hadits mursal shahih. Akan tetapi apakah semua pakar ahli hadits sepakat dengan pendapat tersebut?

Al-Hafizh adz-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffazh (I/78) menulis biografi Abdullah bin Buraidah berikut:

عَبْدُ الله بنُ بُرَيْدَة بنِ الحَصِيْبِ الحَافِظ أبُو سَهْل الأسْلَمِىّ المَرْوَزِي قَاضِى مَرْوَ وَعَالِم خُرَاسَان: حَدَّثَ عَنْ أَبِيْهِ وَعَائِشَةَ
“Abdullah bin Buraidah bin Hashib al-Hafizh, Abu Sahl al-Aslami al-Marwazi, qadhi Marwa, alim dari Khurasan, menceritakan hadits dari ayahnya (Buraidah) dan Aisyah…..”

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Tahdzib at-Tadzib (V/137), ketika membicarakan biografi Abdullah bin Buraidah, berkata:

عَبْدُ الله بنُ بُرَيْدَة بنِ الحَصِيْب الاسْلَمِي أبُو سَهْلٍ المَرْوَزِيّرَوَىَ عَنْ أَبِيْهِ وابنِ عَبَّاس وابْنِ عُمَرَ وعَبْدِ اللهِ بنِ عَمْرٍو وابنِ مَسْعُود وعبدِ الله بنِ مُغَفَّل وأبِيْ مُوْسَى الاَشْعَرِي وأبِي هُرَيْرَة وَعَائِشَةَ ….
“Abdullah bin Buraidah bin Hashib al-Aslami, Abu Sahl al-Marwazi. Meriwayatkan dari ayahnya, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abdullah bin Amr, Ibnu Mas’ud, Abdullah bin Mughaffal, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Aisyah….”

Dan dua pernyataan dari dua hafizh besar dia atas menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Abdullah bin Buraidah mendengar hadits dari Aisyah sehingga haditsnya maushul dan tidak mursal.

Al-Muhaddits Muhammad Awwamah pada tahqiq-nya terhadap kitab Nashb ar-Rayah karya al-Hafizh az-Zala’i (III/193), setelah menjelaskan ucapan al-Hafizh al-Baihaqi yang mengatakan Abdullah bin Buraidah tidak mendengar hadits dari Aisyah, menulis:

ابنُ بُرَيْدَةَ وُلِدَ سَنَةَ خَمْسَةَ عَشَرَةَ، وَسَمِعَ جَمَاعَةً مِنَ الصَّحَابة ، وَقَدْ ذَكَر مُسْلِمٌ فِي – مُقَدِّمَةِ كِتَابِه – أنَّ المُتَّفَقَ عَلَيْهِ أنّ إمْكانَ اللِّقَاءِ والسَّمَاعِ يَكْفِيْ للاتِّصَالِ، وَلا شَكَّ فِي إمْكاَنِ سَمَاع ابنِ بُرَيْدَةَ مِنْ عَائِشَةَ ، عَلىَ أنَّ صَاحِبَ “الكَمَال” صرَّحَ بِسَمَاعِهِ مِنْهَا، انْتَهَى. وَقَال الحَافِظ في “التَّهْذِيب” ص 157 – ج 5: عَبْدُ الله بنُ بُرَيْدَة بنِ الحَصِيْب الأسْلَمِي سَمِعَ مِنْ عَائِشَةَ، انْتَهَى
“Ibnu Buraidah dilahirkan tahun 15 (Hijriyyah), ia mendengar hadits dari segolongan shahabat. Imam Muslim dalam mukaddimah kitabnya menyebutkan: “Yang disepakati, bahwa adanya kemungkinan bertemu dan mendengar sudah cukup sebagai bukti muttasil-nya sanad hadits”. Dan tidak ada keraguan sama sekali, bahwa Ibnu Buraidah mungkin mendengar hadits dari Aisyah. Penulis al-Kamal malah menjelaskan bahwa ia pernah mendengar hadits dari Aisyah. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam at-Tahdzib (V/157) berkata: “Abdullah dari Buraidah dari al-Hashib al-Aslami mendengar dari Aisyah”.

Pernyataan-pernyataan di atas sangat mendukung penilaian Imam Tirmidzi, bahwa hadits di atas adalah “hasan shahih”, bukan “mursal” yang masuk kategori hadits dhaif.

Bahkan andai dhaif pun, bukankah hadits di atas layak dijadikan hujjah dalam fadhail amal?

Sedangkan terkait dengan cacat dari sisi matannya, maka apakah pertanyaan Aisyah kepada Rasulullah sebagaimana dalam hadits tidak cukup sebagai jawaban? Setelah hadits diatas dinilai shahih oleh para huffazh besar, apakah masih ada keraguan dihati terhadap makna hadits di atas? Yang sangat aneh adalah pernyataan Salafi Wahabi tersebut, bahwa tanda-tanda lailatul qadar diketahui setelah lailatul qadar berlalu.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (IV/267) berkata:
قَالَ النَّوَوِي مَعْنَى يُوَافِقُهَا أيْ يَعْلَمُ أَنَّهَا لَيْلَةُ القَدْرِ فَيُوَافِقُهَا
“Imam an-Nawawi berkata: “Maksud mencocoki (ibadah) lailatul qadar adalah mengetahui bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar dan kemudian ia mencocokinya (dengan ibadah)”.

Apakah ucapan ini juga belum jelas menurut dia?

Mungkin yang dimaksudkan oleh dia adalah, bahwa ketiga pagi hari dari malam lailatul qadar, matahari tampak putih dan sinarnya tidak begitu menyengat. Dan itulah tanda-tanda lailatul qadar. Memang betul, tetapi bukankah pada malam lailatul qadar juga ada tanda-tandanya.

Dalam sebuah hadits dikatakan:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ، كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ، لاَ بَرْدَ فِيهَا وَلاَ حَرَّ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tanda-tanda lailatul qadar adalah cerah bersinar, seakan-akan ada rembulan yang bersinar tenang sayu, tidak dingin dan tidak pula ada panas….”

Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad.

Pagi hari tampak tanda-tanda lailatul qadar masih ada, karena faidahnya adalah untuk supaya diketahui bahwa malam tadi adalah malam lailatul qadar dan merupakan anjuran supaya siang harinya masih tetap bersemangat beribadah sebagaimana malamnya. Demikian dikatakan al-Muhaddits Ibnu Alan ash-Shiddiqi dalam Dalil al-Falihin (VII/17).

Ditulis oleh Ustaz Nur Hidayat
Tag : ,

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

By : 'Asyirah Aswaja Sumut


Hadith yang berbunyi: 
لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِى رَمَضَانَ لَـتــَمَنَّتْ أُمَّتِى أَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُـلَّهَا
“Seandainya para hamba mengetahui keutamaan bulan Ramadhan, niscaya mereka berandai-andai agar satu tahun penuh dijadikan bulan Ramadhan” (HR. Ibnu Khuzaimah, Thabarani dan Baihaqi)

Sebahagian Salafi Wahabi berkata, bahawa hadits tentang keutamaan bulan Ramadhan tersebut adalah maudhu’ atau palsu mengikuti penilaian al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at.
Menurut saya, sebagai pengkaji hadits seharusnya maklum, bahwa al-Hafizh Ibnul Jauzi adalah ulama hadits yang mudah menilai palsu hadits, bahkan hadits shahih dan hasan-pun pernah ia anggap palsu. Ia adalah kebalikan dari al-Hafizh al-Hakim yang terkenal paling mudah menshahihkan hadits. Dan seharusnya bagi pengkaji hadits, sebagaimana yang dikatakan oleh ulama, penilaian palsu al-Hafizh Ibnul Jauzi tidak boleh dibuat pedoman tetapi harus dicocokkan dengan penilaian huffazh-huffazh hadits yang lain.

Al-Hafizh Ibnu Hajar, sebagaimana kutipan as-Suyuthi dalam Tadrib ar-Rawi (I/279), berkata:

 وَيَتَعَيَّن الاعْتِنَاءُ بانْتِقَاد الكِتَابَيْنِ (اي المَوْضُوْعَاتِ لابْنِ الجَوْزِي وَالمُسْتَدْرَك للحَاكِم) فَإنّ الكَلاَمَ فِي تَسَاهُلِهِمَا أَعْدَمَ الانْتِفَاعَ بِهِمَا إلاَّ لِعَالِمٍ بِالفَنِّ
“Wajib berperhatian dengan melakukan kritik terhadap dua kitab (al-Mudhu’at dan al-Mustadrak), karena berbicara dalam methode pemudahan keduanya boleh menghilangkan manfaat terhadap keduanya kecuali bagi orang yang alim dibidang ini”.

Mari kita kaji lebih lanjut, apakah huffazh-huffazh hadits lain sependapat dengan al-Hafizh Ibnul Jauzi?

Adalah al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam al-Jami’ al-Kabir (hadits nombor 952) dan Al-Hafizh Ala’uddin al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanz al-Ummal (hadits nombor 23715) yang berbeza dan cenderung menyalahkan penilaian palsu al-Hafizh Ibnul Jauzi. Keduanya berkata:

وَأَوْرَدَهُ ابْنُ الجَوْزِىّ فِى المَوْضُوْعَاتِ فَلَمْ يُصِبْ
“Ibnul Jauzi memasukkannya dalam al-Maudhu’at tetapi itu salah”.

Al-Hafizh al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid (III/141) berkata:
رَوَاهُ أَبُوْ يَعْلَى وَفِيْهِ جَرِيْرٌ بنُ أَيُّوْبَ وَهُوَ ضَعِيْفٌ
“Hadits diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dan didalamnya terdapat Jarir bin Ayyub (al-Bajali), dan ia dhaif”

Inilah penilaian huffazh hadits selain al-Hafizh Ibnul Jauzi. Mereka tidak mengatakan palsu tetapi hanya dhaif.

Kemudian terkait dengan perawi yang bernama Jarir bin Ayyub al-Bajali, sebagaimana yang dikatakan oleh Mulla ali al-Qari dalam Umdah al-Qari (XVI/260) bahwa Imam al-Waki’ dan Ibnu Dakin menilai dia adalah seorang pemalsu hadits, Ibnu Main menilai dia bukan apa-apa, al-Bukhari dan Abu Zur’ah menilai ia munkarul hadits, dan an-Nasai menilai ia adalah matruk haditsnya.

Dengan pandangan pakar hadits terhadap salah satu perawi hadits di atas yang sedemikian rupa itu, maka hadits diatas tidak palsu tapi lemah sekali. Kenapa tidak disebut palsu? Karena huffazh hadits tidak menilainya palsu. Dan antara palsu dengan lemah sekali secara ilmiiyah adalah berbeza. Dan menyamakan status keduanya adalah bentuk ketidak amanahan ilmiyyah.

Kemudian jika dikatakan, apa beza antara hadits maudhu’ (palsu) dengan hadits yang sangat dhaif yang padahal sama-sama tidak dapat diamalkan dalam hal apapun, termasuk fadhail amal? Maka jawabanya adalah, bahwa hadits sangat dhaif apabila ada banyak riwayat yang senada, maka derajatnya boleh naik menjadi dhaif biasa yang boleh diamalkan dalam fadhilah amal, targhib wa tarhib, manaqib dan lain-lain. Sementara hadits palsu selamanya adalah palsu dan tidak akan mungkin terangkat statusnya.

Sayyid Alawi al-Maliki dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail (hal. 248) berkata:

قَالَ الاِمَامُ الرَّمْلِيّ الأحَادِيْثُ الشَدِيْدَةُ الضُّعْفِ اذاَ انْضَمَّ بَعْضُهَا اِلَى بَعْضٍ يُحْتَجُّ بِهَا فِي هَذَا البَابِ
“Imam Ramli berkata: “Hadits-hadits yang sangat dhaif ketika dikumpulkan sebagian darinya ke sebagian yang lain, maka dapat dibuat hujjah dalam bab ini (fadhail amal dll)”.

Bahkan hadits tersebut boleh berubah menjadi hasan lighairihi sebagaimana dikatakan al-Hafizh Ibnu Hajar. Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tadrib ar-Rawi (I/177) yang mengutip pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar, berkata.

بَلْ رُبَّمَا كَثُرَتْ الطُرُق حَتَّى أَوْصَلَتْه إلىَ دَرَجَةِ المَسْتُوْرِ والسَّيّءِ الحِفْظِ بِحَيْثُ إذَا وُجِدَ لَهُ طَرِيْقٌ آخَرُ فِيْهِ ضَعْفٌ قَرِيْبٌ مُحْتَمِلٌ ارْتَقَى بِمَجْمُوعِ ذَلِكَ إلىَ دَرَجَةِ الحَسَنِ
 “Bahkan, terkadang banyaknya jalan riwayat hingga sampai kepada derajat perawi mastur dan yang buruk hafalannya, yang jika ditemukan jalan riwayat lain yang tidak sangat dhaif, maka ia naik ke darjat hasan sebab perhimpunannya”

Ditulis oleh Ustaz Nur Hidayat
Tag : ,

Amalan bulan rajab, sya’ban dan romadhon

By : 'Asyirah Aswaja Sumut

أوراد شهر شعبانسلطان الأولياء مولانا الشيخ ناظم الحقاني قدس سره1 شعبان 1432 – 2 يوليو 2011سئل مولانا الشيخ عن وظائف وأوراد شهر شعبان فقال: ها هو محمد أفندي، سوف يقوم بتبليغكم بكل الوظائف. فخليفتي هنا، يمكنه أن يفتح كتاب الحاجة آمنة، "رمضان"، ويخبركم عن وظائف وأوراد شهر رجب وشعبان ورمضان. ماذا عساي أن أقول. يمكنكم أن تقوموا بهذه الوظائف:
 
– الصلاة على النبي على قدر ما أمكنكم ذلك، من 100 إلى 1000 إلى 10,000، تعظيماً له، صلى الله عليه وسلم وبنية السلامة لأمته.
– كلمة التوحيد، "لا إله إلا الله"، من 100 إلى 1000 إلى 10,000 مرة. 
– سورة الإخلاص الشريف، من 100 إلى 1000 مرة.- آية الكرسي 40 مرة.
 – اسم الجلالة، "الله"، من 5000 إلى 10,000 مرة، لساناً وقلباً.- والذي عليه قضاء صلوات فائتة، فليصلها وليقم بتسديد ديونه (من الصلوات).
 – والذي عليه قضاء صيام، فليصمه وليوفّ ديونه (من الصيام).
 – ومن أراد، فبإمكانه أن يصلي ويصوم ويهبها لأشخاص عليهم قضاء صلاة أو صيام، وإذا لم يعرف شخصاً بعينه عليه قضاء صلاة أو صيام، فيمكنه أن ينوي قضاء عن أمة سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم، الذين فاتتهم الصلاة والصيام، ويهب ثوابها لهم.
– وكل من هو قادر على دفع الصدقات، فليدفع 5 قروش أو 5 ليرات أو 5 آلاف أو 5 ملايين، كما يحب. والله سبحانه وتعالى سيجازيهم بأضعاف مضاعفة.
– علموا أولادكم القرآن الكريم. وقد بدأت عطلة الصيف، فأرسلوهم إلى أماكن تعليم القرآن الكريم، أو علموهم في البيوت، فهذا أفضل من أن يكونوا في الخارج.
 – وليترك البنات الجري خلف الموضة.
– لا تجعلوا صبيانكم يلبسون قمصان "الشيرت" ولا البناطيل القصيرة.
– ولا تسمحوا للأولاد بأن يختلطوا بمجالس الكبار. 
– لا تذهبوا إلى شواطئ البحر، فالبحر وسخ وقد توسخكم. ومن يذهب للاستجمام في شواطئ البحر، يجعل الله قبره بحراً فيه تنين من تنانين البحر، يلدغ جسده بسمه ويعذبه. ولو سمع أهل الدنيا صراخ ذلك الميت لماتوا رعباً. 
– تصدقوا ولو برغيف من خبز. إذا كان في حيكم فقير، أو على بعد شارع أو شارعين، أو في المساجد، فتصدقوا عليهم.  
– إستغفروا ربكم من 70 إلى 700 مرة. 
– قوموا بأعمال الخير واجتنبوا السيئات على قدر ما أمكنكم ذلك.
 
 
 
Amalan bulan rajab, sya’ban dan romadhon. Ini menurut Syekh Nadzim alHaqqaany, amalkan bila memungkinkan ;
  1. Shalawat nabi semampumu bisa dari hitungan 100, 1000 hingga 10.000 kali 
  2. Kalaimat tauhid ‘LAA ILAAHA ILLA ALLAAH bisa dari hitungan 100, 1000 hingga 10.000 kali
  3. Surat al-Ikhlas bisa dari hitungan 100 hingga 1000 kali 
  4. Ayat Kursi 40 kali 
  5. Isim Jalaalah ‘ALLAAH’ 5000 hingga 10.000 kali dengan lisan dan hati
  6. Bagi yang masih memiliki tanggungan qadha sholat, segera selesaikan hutangnya 
  7. Bagi yang masih memiliki tanggungan qadha puasa, segera selesaikan hutangnya 
  8. Bagi yang berkenan menjalani sholat dan puasa dengan dihadiahkan untuk orang lain, maka lakukan. Bila tidak tahu nama seseorang yang ingin dihadiahi niatkan untuk hadiah sholat/puasa kepada umat nabi Muhammad, berikan pahalanya untuk mereka
  9. Bagi yang mampu sedekah, maka jalanilah seampunya, Allah akan melipat gandakan dengan berlipat-lipat 
  10. Dst..
Sumber : www.piss-ktb


Tag : ,

- Copyright © Asyirah Aswaja Sumut - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by 'Asyirah Aswaja Sumut -