Membongkar Kesesatan Hizbuttahrir (Bag. 2)
By : 'Asyirah Aswaja Sumut
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله وكفى وسلام على عباده الذين
اصطفى وبعد،
يقولالله تعالى : "بل نقذف بالحق
على الباطل فيدمغه " الآية .
Sebagai pengamalan terhadap ayat ini
kami akan menyebutkan penjelasan ringkas dan memadai bagi kaum muslimin tentang
suatu kelompok yangtelah merubah agama dan menyebarkan kebatilan-kebatilan yang
dikenal dengan kelompok Hizbuttahrir, yang didirikan oleh seorang bernama
Taqiyuddinan-Nabhani. Ia mengaku ahli ijtihad, ia berbicara tentang agama
dengankebodohan, mendustakan al Qur’an, hadits dan ijma’ baik dalam
masalahpokok-pokok agama (Ushuluddin) maupun dalam masalah furu’.
Berikut ini adalah sebagiankecil
dari kesesatan-kesesatannya yang dibantah oleh orang yang memiliki hati yang
jernih.
********************************************************************
1. Allah ta'ala
berfirman :
(إنّاكلّ
شىء خلقناه بقدر)
Maknanya :"
Rasulullah shallallahu 'alayhi
wasallam bersabda:
"إنّ الله
صانع كل صانع وصنعته" رواه الحاكم والبيهقيّ
Maknanya: "Allah pencipta
setiap pelaku perbuatan dan perbuatannya" (H.R. al Hakim dan al
Bayhaqi)
Al Imam Abu Hanifah dalam alFiqh
al Akbar berkata: “Tidak sesuatupun di dunia maupun di akhirat terjadi
kecuali dengan kehendak, pengetahuan, penciptaan dan ketentuan-Nya”.Tentang
perbuatan hamba, beliau berkata: “Dan dia itu seluruhnya (segala perbuatan
manusia) dengan kehendak, pengetahuan, penciptaan dan ketentuan-Nya”.Inilah
aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Sedangkan Hizbuttahrirmenyalahi
aqidah ini. Mereka menjadikan Allah tunduk dan terkalahkan dengan terjadinya
sesuatu di luar kehendak-Nya. Hal ini seperti yang dikatakan oleh pimpinan
mereka; Taqiyyuddin an-Nabhani dalam bukunya berjudul asy-Syakhshiyyahal
Islamiyyah, juz I, bagian pertama, hlm 71-72, sebagai berikut: "Segala perbuatan
manusia tidak terkait dengan Qadla Allah, karena perbuatan tersebut ia lakukan
atas inisiatif manusia itu sendiri dan dari ikhtiarnya. Maka semua perbuatan
yang mengandung unsur kesengajaan dan kehendak manusia tidak masuk dalam qadla'".
Dalam buku yang sama ia berkata[1]:"Jadi menggantungkan adanya pahala
sebagai balasan bagi kebaikan dansiksaan sebagai balasan dari kesesatan,
menunjukkan bahwa kebenaran dan kesesatan adalah perbuatan murni manusia itu
sendiri, bukan berasal dari Allah".Pendapat serupa juga ia ungkapkan
dalam kitabnya berjudul Nizham al Islam[2].
*********************************************************************
2.Ahl al Haqq sepakat bahwa
para nabi pasti memiliki sifat jujur, amanah dan kecerdasan yang sangat. Dari
sini diketahui bahwa Allah ta'ala tidak akan memilih seseorang untuk predikat
ini kecuali orang yang tidak pernah jatuh dalam perbuatan hina (Radzalah),khianat,
kebodohan, kebohongan dan kebebalan. Karena itu orang yang pernah terjatuh dalam
hal-hal yang tercela tersebut tidak layak untuk menjadi nabi meskipun tidak lagi
mengulanginya.
Para nabi juga terpelihara dari kekufuran,dosa-dosa besar juga
dosa-dosa kecil yang mengandung unsur kehinaan, baik sebelum mereka menjadi nabi
maupun sesudahnya. Sedangkan dosa-dosa kecil yang tidak mengandung unsur
kehinaan bisa saja seorang nabi. Inilah pendapat kebanyakan para ulama seperti
dinyatakan oleh beberapa ulama dan ini yang ditegaskan oleh al Imam Abu al Hasan
al Asy’ari --semoga Allah merahmatinya--.
Sementara Hizbuttahrir
menyalahi kesepakatan ini, mereka membolehkan seorang pencuri, penggali kubur
(pencuri kafan mayit),seorang homo seks atau pelaku kehinaan-kehinaan lainnya
yang biasa dilakukan oleh manusia untuk menjadi nabi.
Inilah di antara
kesesatanHizbuttahrir, seperti yang dikatakan pemimpin mereka, Taqiyyuddin
an-Nabhani dalam bukunya asy-Syakhshiyyah al Islamiyyah[3]:"…hanya saja kemaksuman para nabi dan
rasul adalah setelah mereka memiliki predikat kenabian dan kerasulan dengan
turunnya wahyu kepada mereka.Adapun sebelum kenabian dan kerasulan boleh jadi
mereka berbuat dosa sepertiumumnya manusia. Karena keterpeliharaan dari dosa
('Ishmah) berkaitan dengan kenabian dan kerasulan saja".
[1]Ibid, Juz I, Bag.Pertama, hlm. 74
[2]Kitab bernama Nizhamal Islam, hlm. 22
[3]Kitab bernama as-Sakhshiyyahal-Islamiyyah, Juz I, Bag. Pertama, hlm
120
Tag :
hizbut tahrir,
Membongkar Kesesatan Hizbuttahrir (Bag. 1)
By : 'Asyirah Aswaja Sumut
MUQADDIMAH
Segalapuji bagi Allah, Tuhan
sekalian alam. Shalawatdan salam semoga tercurahkan atas Sayyidina
Muhammad, keluarga dan para sahabatnyayang baik dan suci.
Allah ta’ala berfirman:
)كنتم خير
أمة أخرجتللناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر( (ءالعمران :110)
Maknanya: “Kalian adalah
sebaik–baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, menyeru kepada al Ma’ruf
(hal-hal yang diperintahkanAllah) dan mencegah dari alMunkar (hal-hal
yang dilarang Allah)”. (Q.S. Ali ‘Imran: 110)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
"من رأى
منكم منكرا فليغيره بيدهفإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف
الإيمان" (رواه مسلم)
Maknanya: “Barangsiapa di antara
kalian mengetahui suatu perkara munkar, hendaklah ia merubahnya dengan
tangannya, jika ia tidakmampu, hendaklah ia merubahnya dengan lisannya, jika ia
tidak mampu, hendaklahia mengingkari dengan hatinya. Dan hal itu (yang disebut
terakhir) paling sedikit buah dan hasilnya; dan merupakan hal
yang diwajibkan atas seseorang ketika ia tidak mampu mengingkari dengan tangan
dan lidahnya”. (H.R. Muslim)
Syari'at telah menyeru untukmengajak kepada yang al ma’ruf,yaitu hal-hal
yang diperintahkan Allah dan mencegah hal-hal yang munkar, yang diharamkan oleh
Allah, menjelaskan kebathilan sesuatu yang bathil dan kebenaran perkara yang
haqq. Pada masa kini,banyak orang yang mengeluarkan fatwa tentang agama,
sedangkan fatwa-fatwa tersebut sama sekali tidak memiliki dasar dalam Islam.
Karena itu perlu ditulis sebuah buku untuk menjelaskan yang haqq dari yang
bathil, yang benar dari yang tidak benar.
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memperingatkan masyarakat dari
orang yang menipu ketika menjual makanan. Al-Bukhari juga meriwayatkan
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mengatakan tentang dua
orang yang hidup ditengah-tengah kaum muslimin: “Saya mengira bahwa si fulan
dan si fulan tidak mengetahui sedikitpun tentang agama kita ini”.
Kepada seorang khathib, yang
mengatakan:
من يطع الله ورسولهفقد رشد ومن يعصهما
فقد غوى
Maknanya:"Barang siapa
mentaati Allah dan Rasul-Nya maka ia telah mendapatkan petunjuk, dan barang
siapa bermaksiat kepada keduanya maka ia telah melakukan kesalahan",
Rasulullah menegurnya dengan mengatakan:
بئسالخطيب أنت
Maknanya: "Seburuk-buruk
khathib adalah engkau” (H.R.Ahmad), ini dikarenakan khathib
tersebut menggabungkan antara Allah dan Rasul-Nya dalam satu dlamir (kata
ganti) dengan mengatakan ومن يعصهما. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya: “katakanlah:
ومن يعص الله ورسوله
Rasulullah shallallahu ‘alayhi
wasallam tidak membiarkan perkara sepele ini, meski tidak mengandung unsur
kufur atau syirik. Jika demikian halnya, bagaimana mungkin beliau akan tinggal
diam dan membiarkan orang-orang yang menyelewengkan ajaran-ajaran agama dan
menyebarkan penyelewengan-penyelewengan tersebut di tengah-tengah masyarakat.
Tentunya orang semacam ini lebih harus diwaspadai dan dijelaskan
kepadamasyarakat bahaya dan kesesatannya.
Ketika kami menyebut beberapa nama orang yang menyimpang dalam risalah ini, maka
hal ini tidaklah termasuk ghibah yang diharamkan, bahkan sebaliknya ini
adalah hal yang wajib dilakukan untuk memperingatkan masyarakat.
Dalam sebuah hadits sahih bahwa Fathimah binti Qays berkata kepada
Rasulullah: "Wahai Rasulullah, aku telah dipinangoleh Mu’awiyah dan Abu
Jahm”. Rasulullah berkata: "Abu Jahm suka memukul perempuan,
sedangkan Mu’awiyah adalah orang miskin yang tidak mempunyai harta (yang
mencukupi untuk nafkah yang wajib), menikahlah dengan Usamah”. (H.R.Muslim
dan Ahmad)
Dalam hadits tersebut Rasulullah mengingatka nFathimah binti Qays dari Mu’awiyah dan
Abu Jahm. Beliau menyebutkan nama kedua orang tersebut di belakang mereka dan
menyebutkan hal yang dibenci oleh mereka berdua, ini dikarenakan dua sebab. Pertama:Mu’awiyah
orang yang sangat fakir sehingga ia tidak akan mampu memberi nafkahkepada
istrinya. Kedua: Abu Jahmadalah seorang yang sering memukul perempuan.
Jikalau terhadap hal semacam ini saja Rasulullah angkat bicara dan
memperingatkan, apalagi berkenaan dengan orang-orang yang mengaku berilmu dan
ternyata menipu masyarakat serta menjadikan kekufuran sebagai Islam. Oleh karena
itu Imam asy-Syafi’imengatakan di hadapan banyak orang kepada Hafsh al
Fard: “Kamu benar-benar telah kufur kepada Allah yang Maha Agung” (yakni
telah jatuh dalam kufur hakiki yang mengeluarkan seseorang dari Islam
sebagaimana dijelaskan oleh Imam al Bulqini dalam kitab Zawa-idar Raudlah),
(lihat Manaqib asy-Syafi’i,jilid I, h. 407).
Beliau juga menyatakan
tentang Haram bin Utsman, seorang yang hidup semasa dengannya dan
biasa berdusta ketika meriwayatkan hadits: "Meriwayatkan hadits dari
Haram (bin Utsman) hukumnya adalah haram”. Imam Malik juga mencela (jarh)orang
yang semasa dan tinggal di daerah yang sama dengannya; Muhammad binIshaq,
penulis kitab al Maghazi. Imam Malik berkata: “Dia seringkali
berbohong". Imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang al Waqidi: “al
Waqidi seringkali berbohong”.
Tag :
hizbut tahrir,
Amalan bulan rajab, sya’ban dan romadhon
By : 'Asyirah Aswaja Sumut
أوراد شهر
شعبانسلطان الأولياء مولانا الشيخ ناظم الحقاني قدس سره1 شعبان 1432 – 2
يوليو 2011سئل مولانا الشيخ عن وظائف وأوراد شهر شعبان فقال: ها هو محمد
أفندي، سوف يقوم بتبليغكم بكل الوظائف. فخليفتي هنا، يمكنه أن يفتح كتاب
الحاجة آمنة، "رمضان"، ويخبركم عن وظائف وأوراد شهر رجب وشعبان ورمضان.
ماذا عساي أن أقول. يمكنكم أن تقوموا بهذه الوظائف:
– الصلاة على النبي على قدر ما أمكنكم ذلك، من 100 إلى 1000 إلى 10,000، تعظيماً له، صلى الله عليه وسلم وبنية السلامة لأمته.
– كلمة التوحيد، "لا إله إلا الله"، من 100 إلى 1000 إلى 10,000 مرة.
– سورة الإخلاص الشريف، من 100 إلى 1000 مرة.- آية الكرسي 40 مرة.
– اسم
الجلالة، "الله"، من 5000 إلى 10,000 مرة، لساناً وقلباً.- والذي عليه قضاء
صلوات فائتة، فليصلها وليقم بتسديد ديونه (من الصلوات).
– والذي عليه قضاء صيام، فليصمه وليوفّ ديونه (من الصيام).
– ومن أراد،
فبإمكانه أن يصلي ويصوم ويهبها لأشخاص عليهم قضاء صلاة أو صيام، وإذا لم
يعرف شخصاً بعينه عليه قضاء صلاة أو صيام، فيمكنه أن ينوي قضاء عن أمة
سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم، الذين فاتتهم الصلاة والصيام، ويهب ثوابها
لهم.
– وكل من هو
قادر على دفع الصدقات، فليدفع 5 قروش أو 5 ليرات أو 5 آلاف أو 5 ملايين،
كما يحب. والله سبحانه وتعالى سيجازيهم بأضعاف مضاعفة.
– علموا
أولادكم القرآن الكريم. وقد بدأت عطلة الصيف، فأرسلوهم إلى أماكن تعليم
القرآن الكريم، أو علموهم في البيوت، فهذا أفضل من أن يكونوا في الخارج.
– وليترك البنات الجري خلف الموضة.
– لا تجعلوا صبيانكم يلبسون قمصان "الشيرت" ولا البناطيل القصيرة.
– ولا تسمحوا للأولاد بأن يختلطوا بمجالس الكبار.
– لا تذهبوا
إلى شواطئ البحر، فالبحر وسخ وقد توسخكم. ومن يذهب للاستجمام في شواطئ
البحر، يجعل الله قبره بحراً فيه تنين من تنانين البحر، يلدغ جسده بسمه
ويعذبه. ولو سمع أهل الدنيا صراخ ذلك الميت لماتوا رعباً.
– تصدقوا ولو برغيف من خبز. إذا كان في حيكم فقير، أو على بعد شارع أو شارعين، أو في المساجد، فتصدقوا عليهم.
– إستغفروا ربكم من 70 إلى 700 مرة.
– قوموا بأعمال الخير واجتنبوا السيئات على قدر ما أمكنكم ذلك.
Amalan bulan rajab, sya’ban dan romadhon. Ini menurut Syekh Nadzim alHaqqaany, amalkan bila memungkinkan ;
- Shalawat nabi semampumu bisa dari hitungan 100, 1000 hingga 10.000 kali
- Kalaimat tauhid ‘LAA ILAAHA ILLA ALLAAH bisa dari hitungan 100, 1000 hingga 10.000 kali
- Surat al-Ikhlas bisa dari hitungan 100 hingga 1000 kali
- Ayat Kursi 40 kali
- Isim Jalaalah ‘ALLAAH’ 5000 hingga 10.000 kali dengan lisan dan hati
- Bagi yang masih memiliki tanggungan qadha sholat, segera selesaikan hutangnya
- Bagi yang masih memiliki tanggungan qadha puasa, segera selesaikan hutangnya
- Bagi yang berkenan menjalani sholat dan puasa dengan dihadiahkan untuk orang lain, maka lakukan. Bila tidak tahu nama seseorang yang ingin dihadiahi niatkan untuk hadiah sholat/puasa kepada umat nabi Muhammad, berikan pahalanya untuk mereka
- Bagi yang mampu sedekah, maka jalanilah seampunya, Allah akan melipat gandakan dengan berlipat-lipat
- Dst..
Sumber : www.piss-ktb
Tag :
lain-lainnya,
HATI-HATI KEKELIRUAN AQIDAH TENTANG NAIK TURUNNYA NABI SAW KETIKA MI'RAJ
By : 'Asyirah Aswaja Sumut
Kesesatan Aqidah yang luar biasa
bahkan menjerumus kepada kekafiran
Adalah meyakini Mi’rajnya Rasulullah
SAW dan bertemu serta berdialog berhadap hadapan dengan Allah SWT di
Sidratul-muntaha dan Mustawa tersebut dan menganggap disitulah tempat Allah
SWT. Dan terbayang sebuah suasana hening saling duduk berhadapan dan berdampingan
antara Allah SWT dengan Rasulullah SAW. Ini jelas-jelas suatu keyakinan yang
sangat menyimpang sehingga pelaksanaan Shalat yang semestinya adalah
penghambaan kepada Allah SWT bisa berubah menjadi penyembahan kepada berhala
yang dihayalkan jika ternyata seorang yang lagi sholat telah meyakini Tuhannya
duduk dan membutuhkan tempat.
Sayyid Muhammad bin Alwi Maliki
dalam kitabnya "Wa huwa bi al’ufuq al-a’la" yang diterjemahkan oleh
Sahara , publisher dengan judul Semalam bersama Jibril ‘alaihissalam pada halaman
284 dan 286 menyampaikan :
Halaman 284 :
"Walaupun dalam kisah mi’raj
yang didengar terdapat keterangan mengenai naik-turunnya Rasulullah, seorang
muslim tidak boleh menyangka bahwa antara hamba dan Tuhannya terdapat jarak
tertentu, karena hal itu termasuk perbuatan kufur. Na’udzu billah min dzalik.
Naik dan turun itu hanya dinisbahkan
kepada hamba, bukan kepada Tuhan. Meskipun Nabi shallallahu alaihi wasallam
pada malam Isra’ sampai pada jarak dua busur atau lebih pendek lagi dari itu,
tetapi beliau tidak melewati maqam ubudiyah (kedudukan sebagai seorang hamba).
Nabi Muhammad shallallahu alaihi
wasallam dan Nabi Yunus bin Matta alaihissalam, ketika ditelan hiu dan dibawa
ke samudera lepas ke dasar laut adalah sama hal ketiadaan jarak Allah ta’ala
dengan ciptaan-Nya, ketiadaan arahNya, ketiadaan menempati ruang,
ketidakterbatasannya dan ketidaktertangkapnya. Menurut suatu pendapat ikan hiu
itu membawa Nabi Yunus alaihissalam sejauh perjalanan enam ribu tahun. Hal ini
disebutkan oleh al Baghawi dan yang lainnya.
Apabila anda telah mengetahui hal
itu, maka yang dimaksud bahwa Nabi Shallallahu walaihi wasallam naik dan
menempuh jarak sejauh ini adalah untuk menunjukkan kedudukan beliau di hadapan
penduduk langit dan beliau adalah makhluk Allah yang paling utama. Penegertian
ini dikuatkan dengan dinaikkannya beliau diatas Buraq oleh Allah ta’ala dan
dijadikan sebagai penghulu para Nabi dan Malaikat, walaupun Allah Mahakuasa
untuk mengangkat beliau tanpa menggunakan buraq".
Halaman 286 :
"Ketahuilah bahwa
bolak-baliknya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam antara Nabi Musa
alaihissalam dengan Allah subhanahu wa ta’ala pada malam yang diberkahi itu
tidak berarti adanya arah bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Mahasuci Allah dari
hal itu dengan sesuci-sucinya.
Ucapan Nabi Musa alaihissalam kepada
beliau, “Kembalilah kepada Tuhanmu,” artinya: “kembalilah ke tempat engkau
bermunajat kepada Tuhanmu. Maka kembalinya Beliau adalah dari tempat Beliau
berjumpa dengan Nabi Musa alaihissalam ke tempat beliau bermunajat dan bermohon
kepada Tuhannya. Tempat memohon tidak berarti bahwa yang diminta ada di tempat
itu atau menempati tempat itu karena Allah Subhanahu wa ta’ala suci dari arah
dan tempat. Maka kembalinya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam kepadaNya
adalah kembali Beliau meminta di tempat itu karena mulianya tempat itu
dibandingkan dengan yang lain. Sebagaimana lembah Thursina adalah tempat
permohonan Nabi Musa alaihissalam di bumi.
Walaupun beliau pada malam ketika
mi’rajkan sampai menempati suatu tempat di mana Beliau mendengar gerak qalam,
tetapi Beliau shallallahu alaihi wasallam dan Nabi Yunus alaihissalam ketika
ditelan oleh ikan dan dibawa keliling laut hingga samapai ke dasarnya adalah
sama dalam kedekatan dengan Allah ta’ala. Kaerena Allah Azza wa Jalla suci dari
arah, suci dari tempat, dan suci dari menempati ruang.
Al Qurthubi di dalam kitab
at-Tadzkirah, mengutip bahwa Al Qadhi Abu Bakar bin al-’Arabi al Maliki
mengatakan, ‘Telah mengabarkan kepadaku banyak dari sahabat-sahabat kami dari
Imam al-Haramain Abu al Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf al Juwaini
bahwa ia ditanya, “Apakah Allah berada di suatu arah?” Ia menjawab, “Tidak, Dia
Mahasuci dari hal itu” Ia ditanya lagi, “Apa yang ditunjukkan oleh hadits ini?”
Ia menjawab, “Sesungguhnya Yunus bin Matta alaihissalam menghempaskan dirinya
kedalam lautan lalu ia ditelan oleh ikan dan menjadi berada di dasar laut dalam
kegelapan yang tiga. Dan ia menyeru, “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci
Engkau, Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim,” sebagaimana Allah
ta’ala memberitakan tentang dia. Dan ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi
wasallam duduk di atas rak-rak yang hijau dan naik hingga sampai ke suatu
tempat di mana Beliau dapat mendengar gerak Qalam dan bermunajat kepada
Tuhannya lalu Tuhan mewahyukan apa yang Ia wahyukan kepadanya, tidaklah Beliau
shallallahu alaihi wasallam lebih dekat kepada Allah dibandingkan Nabi Yunus
alaihissalam yang berada dikegelapan lautan. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala
dekat dengan para hambaNya, Ia mendengar doa mereka, dan tak ada yang
tersembunyi atasNya, keadaan mereka bagaimanapun mereka bertindak, tanpa ada
jarak antara Dia dengan mereka. Jadi, Ia mendengar dan melihat merangkaknya
semut hitam di atas batu yang hitam pada malam yang gelap di bumi yang paling
rendah sebagaimana Ia mendengar dan melihat tasbih para pengemban ‘Arsy di atas
langit yang tujuh. Tidak ada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan
yang nyata. Ia mengetahui segala sesuatu dan dapat membilang segala
sesuatu".
Tag :
Aqidah,
Tahlilan 7 Hari Populer di Makkah dan Madinah
By : 'Asyirah Aswaja Sumut
Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi
asy-Syafi’i rahimahullah (salah satu pengarang kitab tafsir Jalalain)
didalam al-Hawi lil-Fatawi menceritakan bahwa kegiatan 'tahlilan' berupa
memberikan makan selama 7 hari setelah kematian merupakan amalan yang
tidak pernah ditinggalkan oleh umat Islam di Makkah maupun Madinah. Hal
itu berlangsung hingga masa beliau :
أن سنة الإطعام سبعة أيام، بلغني أنها مستمرة إلى الآن بمكة
والمدينة، فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة إلى الآن، وأنهم أخذوها
خلفا عن سلف إلى الصدر الأول“Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (yakni masa al-Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasi awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’. [1]
Hal ini kembali di kisahkan oleh al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-Fadlil Muhammad Nur al-Buqis didalam kitab beliau yang khusus membahas kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan menaqal perkataan Imam As-Suyuthi :
أن سنة الإطعام سبعة أيام بلغني و رأيته أنها مستمرة إلى الأن بمكة والمدينة من السنة 1947 م إلى ان رجعت إلى إندونيسيا فى السنة 1958 م. فالظاهر انها لم تترك من الصحابة إلى الأن وأنهم أخذوها خلفاً عن سلف إلى الصدر الإول. اه. وهذا نقلناها من قول السيوطى بتصرفٍ. وقال الإمام الحافظ السيوطى : وشرع الإطعام لإنه قد يكون له ذنب يحتاج ما يكفرها من صدقةٍ ونحوها فكان فى الصدقةِ معونةٌ لهُ على تخفيف الذنوب ليخفف عنه هول السؤل وصعوبة خطاب الملكين وإغلاظهما و انتهارهما.
“Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari) berkelanjutan sampai sekarang di Makkah dan Madinah (tetap ada) dari tahun 1947 M sampai aku kembali Indonesia tahun 1958 M. Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak zaman sahabat nabi hingga sekarang, dan mereka menerima (memperoleh) cara seperti itu dari salafush shaleh sampai masa awal Islam. Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz as-Suyuthi dengan sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz As-Suyuthi berkata : “disyariatkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah shadaqah itu sebagai bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya dahsyatnya pertanyaan kubur, sulitnya menghadapi menghadapi malaikat, kebegisannyaa dan gertakannya”. [2]
Istilah 7 hari sendiri didasarkan pada riwayat shahih dari Thawus yang mana sebagian ulama mengatakan bahwa riwayat tersebut juga atas taqrir dari Rasulullah, sebagian juga mengatakan hanya dilakukan oleh para sahabat dan tidak sampai pada masa Rasulullah.
(red. Ibnu Manshur)
[1] al-Hawi al-Fatawi [2/234] lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi.
[2] Kasyful Astaar lil-‘Allamah al-Jalil Muhammad Nur al-Buqir, beliau merupakan murid dari ulama besar seperti Syaikh Hasan al-Yamani, Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutubi, Syaikh Sayyid Alwi Abbas al-Maliki, Syaikh ‘Ali al-Maghribi al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath dan Syaikh Alimuddin Muhammad Yasiin al-Fadani.
Sumber : Muslimmedianews.com
Tag :
Makalah Aswaja,
Sya’ban Bulan Persiapan Menghadapi Ramadhan
By : 'Asyirah Aswaja Sumut
Tanda
seseorang gembira dengan kedatangan Ramadhan adalah ia menyiapkan bekal
terbaik untuk menjalaninya. Ibarat safar yang jauh dan berat, persiapan
dan perbekalan sangat menentukan keselamatan dan kesuksesan dalam
menjalaninya. Khususnya bekal iman dan ketakwaan berupa mengerjakan
ketaatan dan menjauhi maksiat, mengagendakan program amal shalih dan
amal sosial, dan semisalnya.
Diriwayatkan
dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'Anhuma, beliau berkata, “Wahai
Rasulullah!aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada satu bulan dari
bulan-bulan yang ada sebagaimana puasamu pada bulan Sya’ban.”Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَلِكَ شَهْرٌ
يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ
تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ
يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban
adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab
dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan
kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk
berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. Al-Nasa’i. hadits ini hasan.
Lihat: Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 1012)
Dalam hadits
di atas, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan sebab beliau
memperbanyak puasa di bukan Sya’ban: pertama, karena banyak orang lalai
dari amal shalih dan ketaatan di dalamnya. Artinya, mereka tidak
memperbanyak amal shalih dan ketaatan di bulan Sya’ban. Maka siapa yang
menunda beramal shalih dan menjalankan ketaatan di bulan ini, maka ia
termasuk bagian manusia yang lalai.
Kedua, pada bulan Sya’ban amal-amal hamba diangkat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Ibnu Rajab
menambahkan alasan yang ketiga, “Dikatakan juga makna lain (hikmah,-red)
tentang puasa Sya’ban, bahwa puasa Sya’ban seperti latihan puasa
Ramadhan agar saat dirinya masuk puasa Ramadhan tidak menjalankannya
dengan berat dan beban, tapi ia telah terlatih dan terbiasa berpuasa
sehingga ia merasakan manis dan enaknya puasa Sya’ban sebelum Ramadhan,
sehingga ia memasuki puasa Ramadhan dengan kuat dan semangat,” (Latha-if
al-Ma’arif, hal. 252)
Di antara
rahasia kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di
bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib
(ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib
adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat
wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa
di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut
memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di
bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab, 233)
Hikmah di
balik puasa Sya’ban adalah: Bulan Sya’ban adalah bulan tempat manusia
lalai. Karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab
(yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu
bulan Ramadhan. Tatkala manusia lalai, inilah keutamaan melakukan amalan
puasa ketika itu. Sebagaimana seseorang yang berdzikir di tempat
orang-orang yang begitu lalai dari mengingat Allah -seperti ketika di
pasar-, maka dzikir ketika itu adalah amalan yang sangat istimewa.
Abu Sholeh mengatakan, “Sesungguhnya
Allah tertawa melihat orang yang masih sempat berdzikir di pasar.
Kenapa demikian? Karena pasar adalah tempatnya orang-orang lalai dari
mengingat Allah.”
Sumber : Ustadz Yusuf Mansur
Tag :
Makalah Aswaja,





